UMKM Aceh Tumbuh 68%, Tapi Rentan Tutup, Prof Syahrizal Abbas Soroti Masalah Internal
Banda Aceh – Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syahrizal Abbas MA, menegaskan bahwa persoalan terbesar yang masih menghambat perkembangan UMKM di Aceh justru berasal dari faktor internal.
Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Internasional Muzakarah Saudagar Aceh yang dilaksanakan oleh Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (MPW ISMI) Aceh bekerja sama dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh dan berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh (DGA) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025).
“Data terakhir menunjukkan jumlah UMKM di Aceh meningkat hingga sekitar 68 persen. Ini menandakan masyarakat Aceh memiliki semangat berdagang yang tinggi, bahkan memiliki karakter saudagar sejak masa lampau,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa jumlah UMKM tercatat lebih dari 624 ribu unit, bergerak di berbagai sektor seperti pertanian, kerajinan, kuliner, fesyen, obat tradisional, dan industri kreatif.
Namun, menurutnya, pertumbuhan kuantitas tersebut tidak sebanding dengan kualitas tata kelola UMKM.
Prof Syahrizal menjelaskan bahwa masalah klasik seperti permodalan terus berulang tanpa penyelesaian.
Akses pembiayaan perbankan masih ketat karena banyak UMKM dikategorikan tidak bankable, sementara perbankan berpegang pada prinsip kehati-hatian.
“Minimnya legalitas dan kurangnya kesadaran UMKM terhadap perizinan juga masih menjadi hambatan. Banyak UMKM yang tutup karena lemahnya tata kelola dan pembukuan,” ungkapnya berdasarkan hasil penelitian.
Selain itu, literasi digital, akses pasar terbatas, kurangnya inovasi produk, serta kelemahan strategi pemasaran masih menjadi tantangan yang harus dibenahi.
Ia juga menyinggung persoalan perpajakan yang kerap menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha kecil.
Prof Syahrizal menekankan pentingnya meningkatkan kualitas SDM secara terukur melalui pelatihan, pendidikan, studi banding, dan studi tiru pada tingkat nasional maupun internasional.
Penerapan teknologi modern juga dianggap vital untuk meningkatkan mutu produk agar mampu bersaing secara global.
Ia turut menyoroti pentingnya standarisasi dan sertifikasi halal. Saat ini, negara-negara muslim tengah menyusun standar halal internasional.
Perbedaan standar antarnegara seperti Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, hingga Iran dianggap menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
Terkait pembiayaan, Prof Syahrizal mendorong pemerintah menyediakan jaminan pembiayaan bagi UMKM yang tidak bankable.
Menurutnya, tanpa dukungan tersebut, pelatihan dan peningkatan kualitas UMKM tidak akan berjalan berkelanjutan.
Perguruan tinggi disebut memiliki peran strategis melalui riset, pendampingan, konsultasi, serta kerja sama dengan lembaga profesional lainnya.
Penguatan jaringan pemasaran dan riset internasional juga dinilai penting untuk memajukan UMKM Aceh.
Di akhir pemaparannya, ia menekankan bahwa komitmen terhadap pembinaan UMKM harus stabil dan berkelanjutan.
“Komitmen kita jangan naik turun seperti iman. Untuk UMKM, komitmen harus stabil. Mulai dari pembiayaan, regulasi, akses informasi, hingga akses perbankan harus terus dijaga,” tegasnya.
Prof Syahrizal menutup dengan pesan bahwa Aceh tidak akan mampu melompat menjadi besar jika persoalan internal UMKM belum diselesaikan. (Akhyar)






