Terhubung di 19 Negara, Diaspora Global Aceh Siap Pasarkan Produk UMKM Lokal
Banda Aceh – Ketua Diaspora Global Aceh (DGA), Dr Ir Mustafa Abubakar, menegaskan bahwa Diaspora Aceh memiliki potensi besar menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui penguatan UMKM, ekspor produk unggulan, serta perluasan jaringan global.
Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Internasional Muzakarah Saudagar Aceh yang diinisiasi oleh Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (MPW ISMI) Aceh bekerja sama dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh dan berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025).
Dalam pengantarnya, Mustafa menyoroti pentingnya pengembangan kembali rumah garam rakyat di Aceh yang dulunya menjadi kebanggaan daerah. Ia menyebut sejumlah kawasan di Aceh yang pernah menjadi sentra garam yang produktif.
“Ini harus dikembangkan lagi, baik skala industri maupun rumah tangga,” ujarnya.
Mustafa juga menanggapi diskusi tentang rantai pasok halal. Menurutnya, penguatan supply chain penting, namun sektor produksi tidak boleh diabaikan.
“Yang utama adalah berdirinya industri makanan halal, pakaian halal, dan kosmetik halal di Aceh. Baru setelah itu supply chain-nya dibangun,” tegasnya.
Ia menambahkan, Diaspora Global Aceh siap mendukung pengembangan industri halal tersebut.
Terhubung di 19 Negara dan Kawasan
Dalam paparannya, Mustafa menjelaskan bahwa Diaspora Global Aceh, yang berdiri pada 20 Agustus 2021, kini telah terhubung di 19 negara dan sejumlah kawasan internasional, termasuk Skandinavia, Malaysia, Singapura, Australia, hingga Selandia Baru.
“Jika dihitung per negara, jumlahnya lebih dari 19 negara. Ini potensi luar biasa yang harus kita manfaatkan,” katanya.
Keberadaan diaspora ini dianggap sebagai kekuatan besar dalam membuka akses pasar internasional, teknologi, hingga permodalan bagi pelaku usaha Aceh.
Mustafa memaparkan sejumlah kegiatan internasional yang telah dilakukan diaspora, di antaranya Konferensi Internasional Perdamaian Aceh yang menghadirkan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, serta dukungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam forum diaspora global.
Selain itu, diaspora Aceh juga aktif mempromosikan madu, kopi Gayo, pariwisata Sabang, dan komoditas unggulan lainnya, serta membina UMKM di berbagai sektor.
“Chapter Skandinavia sangat aktif membina UMKM Aceh. Hari ini beberapa UMKM yang mereka bina hadir langsung di sini,” ujarnya.
UMKM yang telah dibina meliputi Eldina Fashion, Ija Pinggang, Mauli Songket, Katomba Coffee, Ati Karya Rotan, Jungge Food, Keumamah Cut Kak, Haikal Parfume, hingga Bumbu Meurasa dan sejumlah usaha kreatif lainnya.
Mustafa mengungkapkan bahwa seorang tokoh bisnis Malaysia, Datuk Azizan, telah menawarkan diri untuk membina UMKM Aceh pada Desember mendatang.
Ia direncanakan bertemu Gubernur Aceh untuk memberikan program literasi, pembinaan manajemen, pemasaran, hingga fasilitasi permodalan.
“Pengalaman dari Malaysia akan dibawa kepada kita. Diaspora siap membantu,” tegas Mustafa.
Diaspora sebagai ‘Duta Pasar’ Aceh
Mustafa menegaskan bahwa diaspora dapat menjadi ujung tombak pemasaran global Aceh.
“Tempatkanlah kami sebagai duta pasar UMKM dan industri besar Aceh di berbagai penjuru dunia,” katanya.
Ia juga menyebutkan kolaborasi dengan sejumlah BUMN, termasuk Danantara, dalam memperkuat ekosistem pembiayaan.
Mustafa menekankan bahwa UMKM merupakan sektor yang paling strategis bagi Aceh.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Aceh. Kita membutuhkan dukungan lintas sektor dan inovasi untuk mewujudkan Aceh mandiri dan sejahtera,” ujarnya. (Akhyar)






