Pasar Halal Dikuasai Muslim, Ekspor Dikuasai Non-Muslim, Pakar Dunia: Aceh Harus Jadi Pemain

Pakar Halal Supply Chain Dunia, Prof Dr Marco Tieman. [Foto: Dok MPW ISMI Aceh]

Banda Aceh – Pakar Halal Supply Chain Dunia, Prof Dr Marco Tieman, menegaskan bahwa Indonesia, terutama Aceh, memiliki peluang besar menjadi pemimpin global dalam produksi dan ekspor produk halal.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Internasional Muzakarah Saudagar Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (MPW ISMI) Aceh bekerja sama dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh dan berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh (DGA) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Sabtu (22/11/2025).

Dalam sesi tersebut, Marco memaparkan konsep Halal Park 2.0, sebuah model kawasan industri halal terintegrasi yang kini sedang dikembangkan di berbagai negara, dan telah diadopsi oleh Islamic Development Bank (IsDB) di Aljazair.

Marco menjelaskan bahwa halal kini berkembang melampaui sertifikasi produk. “Halal bukan statis. Halal sekarang mencakup kualitas, keamanan, supply chain, hingga Islamic finance dan takaful,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara pertama yang mewajibkan halal supply chain secara hukum, dan diprediksi akan diikuti oleh Malaysia dan negara-negara Timur Tengah pada 2030.

Meski menjadi pasar halal terbesar di dunia, Marco mengungkapkan paradoks penting dalam industri global, yaitu tidak ada satu pun negara muslim masuk lima besar eksportir halal dunia.

“China nomor satu, disusul India, Brazil, Amerika, dan Rusia. Ini menunjukkan negara muslim masih minim peran dalam value chain,” kata Marco.

Menurut Marco, dunia sering membicarakan besarnya pasar halal, namun masalah sebenarnya adalah kekurangan suplai.

“Non-Muslim pun ingin mengonsumsi halal. Masalahnya bukan demand, tetapi supply,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong negara-negara muslim untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan eksportir.

Indonesia, terutama Aceh dengan kekuatan agrarisnya, memiliki modal besar untuk itu. Ia mengusulkan konsep “Halal Indonesia Inside” analogi seperti kampanye “Intel Inside” agar produk halal Indonesia dapat mendominasi pasar global.

Halal Park 2.0: Ekosistem Industri Halal Terpadu

Marco menjelaskan bahwa Halal Park 2.0 bukan sekadar kawasan industri, tetapi klaster ekosistem halal.

Dalam satu kawasan, harus terintegrasi industri bahan baku, industri produk akhir, logistik dan pergudangan, perdagangan, universitas dan lembaga riset, Islamic finance dan takaful, serta regulator halal.

“Indonesia dan Aceh dapat menjadi model global. Mengumpulkan seluruh aktor dalam satu klaster akan menyederhanakan kualitas, keamanan pangan, sustainability, hingga efisiensi biaya,” jelasnya.

Menurut Marco, Aceh punya contoh potensial, seperti Kopi Gayo. Ia memberi contoh bagaimana value chaindapat dimaksimalkan dari satu komoditas.

Used coffee grounds (ampas kopi bekas) memiliki nilai lebih tinggi daripada biji kopi. Bisa dipakai untuk budidaya jamur, dan limbah jamurnya menjadi pakan ternak. Ini bisa melipatgandakan keuntungan empat kali lipat jika supply chain-nya tersambung,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kesenjangan antara industri halal dan sektor keuangan syariah.

“Halal dan Islamic finance seperti saudara, tapi selama ini terlalu jauh terpisah. Pengusaha tidak mendapat akses pembiayaan. Ini harus kita ubah,” tegas Marco.

Halal Supply Chain Alliance (organisasi yang didirikan di Malaysia untuk membangun jaringan rantai pasok halal internasional) yang ia pimpin juga mendorong penggunaan wakaf produktif untuk pendidikan, pertanian, hingga program sosial seperti panti asuhan dan makanan gratis untuk sekolah.

Indonesia Paling Berpotensi Pimpin Dunia

Menurut Marco, tiga negara memiliki peluang besar membangun klaster produksi halal, yaitu Indonesia, Arab Saudi, dan Turki. Namun Indonesia berada di posisi terkuat.

“Indonesia punya agrikultur, tenaga kerja, dan pasar yang besar. Potensinya paling kuat di antara semua negara,” ujarnya.

Ia bahkan telah memimpin pengembangan zona industri halal seluas 500 hektare di Banten yang mencakup logistik, produksi, hingga kosmetik dan farmasi, model yang dapat direplikasi di Aceh.

Marco menyatakan optimisme bahwa Aceh bisa menjadi pemain penting dalam industri halal dunia melalui penguatan ekosistem dan kerja sama lintas sektor.

“Kita harus berkolaborasi untuk menyederhanakan halal, kualitas, dan sustainability. Kami sangat siap bekerja sama dengan Aceh,” ujarnya. (Akhyar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *