Pakar Halal Supply Chain Dunia Paparkan Konsep Halal Park 2.0 yang Strategis Diterapkan di Aceh

Pakar halal supply chain dunia, Prof Dr Marco Tieman, pada seminar internasional “Strategi Produk Lokal Menembus Pasar Global” dalam acara Muzakarah Saudagar Aceh dan UMKM Expo Saudagar Aceh 2025 di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025). [Foto: The Aceh Post]

Banda Aceh – Konsep Halal Park 2.0 hadir sebagai solusi inovatif untuk mengembangkan industri halal di Indonesia, khususnya di Aceh. Hal ini disampaikan oleh pakar halal supply chain dunia, Prof. Dr. Marco Tieman, yang menekankan pentingnya membangun ekosistem halal terpadu untuk memperkuat produksi dan ekspor.

Menurut Tieman, Halal Park 2.0 bukan sekadar kawasan industri halal biasa. Konsep ini mengintegrasikan seluruh rantai nilai, mulai dari produksi bahan baku, pembuatan produk akhir, logistik, pergudangan, hingga keuangan syariah dan takaful, semua dalam satu ekosistem terpadu.

“Halal Park 2.0 memungkinkan perusahaan memproduksi, mengemas, dan menyalurkan produk halal dengan standar yang sama, sehingga kualitas dan integritas halal terjaga dari hulu ke hilir,” kata Prof. Tieman, dalam seminar internasional Muzakarah Saudagar Aceh bertema “Strategi Produk Lokal Menembus Pasar Global” dalam acara Muzakarah Saudagar Aceh dan UMKM Expo Saudagar Aceh 2025 di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025).

Dia menyebut Indonesia saat ini menjadi pasar halal terbesar di dunia dan negara yang telah lama mewajibkan rantai pasok halal melalui undang-undang. Halal Park 2.0 membuka peluang bagi Aceh untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan eksportir produk halal global.

Aceh memiliki potensi pertanian yang besar, seperti kopi Gayo. Prof. Tieman mencontohkan bahwa limbah kopi bisa diolah menjadi media budidaya jamur, kemudian menjadi pakan ternak.

Dengan integrasi rantai pasok ini, keuntungan dapat meningkat hingga empat kali lipat, menekankan pentingnya konsep klaster produksi di Halal Park 2.0.

Selain produksi, Halal Park 2.0 juga mengedepankan akses ke keuangan syariah dan takaful, yang selama ini menjadi kendala bagi pelaku usaha halal.

Melalui konsep ini, pembiayaan syariah akan lebih mudah dijangkau, mendukung pengembangan usaha dan ekspor produk halal.

Konsep ini juga menekankan keberlanjutan, mulai dari pengelolaan air, limbah, hingga energi. Dengan mengelola semua proses produksi dalam satu kawasan, perusahaan dapat lebih mudah menerapkan praktik ramah lingkungan tanpa mengurangi efisiensi.

Prof. Tieman optimistis, jika Halal Park 2.0 diterapkan di Aceh, provinsi ini bisa menjadi pusat produksi dan ekspor halal dunia.

“Dengan kolaborasi, teknologi, dan standar terpadu, Aceh memiliki peluang besar menjadi pemimpin global dalam industri halal,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *