Kepala Diskop UKM Aceh Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Agar Produk UMKM Bisa Menembus Pasar Global

Plt Kadiskop UKM Aceh, Zulkifli SPd MPd, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Ekspor-Impor Berbasis Komoditas Lokal di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025). [Foto: Dok MPW ISMI Aceh]

Banda Aceh – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh, Zulkifli SPd MPd, menggarisbawahi pentingnya peran UMKM Aceh dalam menembus rantai nilai global.

Hal ini disampaikan saat membuka Seminar Nasional Ekspor Impor Berbasis Komoditi Lokal yang diselenggarakan oleh Diskop UKM Aceh bekerja sama dengan Majelis Pengurus Wilayah (MPW) Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Aceh dan berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh (DGA) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (22/11/2025).

Zulkifli menegaskan bahwa komoditas lokal Aceh memiliki daya saing ekspor yang tinggi, dan Pemerintah Aceh berkomitmen penuh dalam mendorong pengembangannya.

Ia memberi contoh beberapa komoditas unggulan yang telah mendunia, seperti Kopi Gayo yang sudah menjadi identitas khas Aceh.

“Kopi Gayo sudah terkenal dimana-mana, orang kalau melihat kita pastinya selalu ingat dengan Kopi Gayo. Ini harus kita sambut positif, karena telah menggeser stereotip negatif yang menghubungkan Aceh dengan ganja,” kata Zulkifli.

Selain Kopi Gayo, Aceh juga memiliki sejarah panjang sebagai penghasil rempah, khususnya Pala dan Lada, yang bahkan dicari oleh para penjajah dunia. Sentra Pala diketahui banyak terdapat di daerah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya (Abdya).

Sektor perikanan juga menyumbang komoditas unggul seperti Ikan Tuna dan Udang, di samping produk olahan dan kerajinan UMKM lainnya.

Kendati demikian, menurutnya UMKM Aceh masih menghadapi sejumlah tantangan yang harus dicari solusinya.

Tantangan tersebut meliputi keterbatasan legalitas dan sertifikasi, kualitas produk yang belum konsisten, kesulitan dalam mengakses pasar dan informasi buyer, serta akses pembiayaan yang masih terbatas untuk skala produksi, yang memerlukan dukungan kuat dari perbankan dan sumber pembiayaan lainnya.

Menanggapi kendala tersebut, Dinas Koperasi dan UKM Aceh secara konsisten memberikan dukungan melalui berbagai program yang ada.

Pemerintah Aceh akan terus menggerakkan pelatihan ekspor-impor bagi UMKM untuk membina dan memberikan pengetahuan tambahan.

Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi kebutuhan dasar seperti pengurusan legalitas, Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal dan perbaikan kemasan produk serta layanan yang diperlukan lainnya.

Zulkifli menyoroti pentingnya kemasan produk, sebab kemasan itu menentukan, karena selalu yang utama dilihat oleh calon pembeli.

Oleh karena itu, pihaknya juga telah menyelenggarakan pelatihan khusus untuk mengemas semua barang yang dihasilkan di Aceh.

Dalam rangka penguatan ekspor, Diskop UKM Aceh merancang strategi yang meliputi pemanfaatan digital market, pembangunan kerja sama dengan aggregator dan eksportir besar, serta penguatan branding komoditi lokal agar produk Aceh memiliki nilai positif di pasar global.

Zulkifli menegaskan bahwa komoditi lokal Aceh berpotensi besar menembus pasar global. Ia menekankan bahwa Pemerintah Aceh berkomitmen memperkuat ekosistem UMKM, dimana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan ekspor.

Ia juga menambahkan poin unik terkait keamanan daerah, yang perlu dikampanyekan, yaitu Aceh sebagai satu-satunya provinsi yang bebas dari begal, yang memungkinkan masyarakat beraktivitas bahkan hingga dini hari. (Akhyar) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *