Ilham Akbar Habibie Nilai Aceh Layak Jadi Pusat KEK Halal Indonesia

Ketua MPP ISMI, Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA, saat memberikan sambutan dalam opening ceremony Muzakarah Saudagar Aceh dan UMKM Expo Saudagar Aceh 2025 di Gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Jumat (21/11/2025). [Foto: Dok MPW ISMI Aceh]

Banda Aceh – Ketua Umum (Ketum) Majelis Pengurus Pusat Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (MPP ISMI), Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA, menegaskan pentingnya peningkatan kontribusi umat dalam perekonomian nasional sebagai kunci tercapainya visi Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikan saat memberi sambutan dalam opening ceremony Muzakarah Saudagar Aceh dan UMKM Expo Saudagar Aceh 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh bekerja sama dengan Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (MPW ISMI) Aceh dan berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh (DGA) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh, Jumat (21/11/2025) malam.

Ilham menilai, kontribusi ekonomi umat masih belum optimal sehingga perlu didorong lebih jauh tanpa mengabaikan prinsip kebangsaan dan nilai-nilai Pancasila.

“Kalau umat kita terbangun dan terberdaya secara ekonomi, saya haqqul yakin Indonesia Emas bisa tercapai lebih baik dan insyaallah lebih cepat,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Ilham menekankan bahwa penguasaan teknologi merupakan syarat mutlak bagi bangsa yang ingin maju.

Ia mencontohkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Jepang, hingga Korea Selatan yang mampu menjadi negara maju karena kekuatan industri dan teknologi.

Ia juga mengingatkan tentang sejarah keberhasilan Indonesia melalui penerbangan perdana pesawat karya anak bangsa pada 10 Agustus 1995, yang menjadi tonggak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

“Itu bukan hal sepele. Tidak banyak negara bisa membuat pesawat terbang. Itu bukti bahwa kita mampu jika konsisten dan percaya diri,” kata Ilham.

Menurutnya, inovasi masa kini tidak mungkin terpisah dari teknologi, terutama teknologi digital, meski masih banyak teknologi lain yang juga penting untuk dikuasai.

Kerja Sama Regional dan Tantangan Geopolitik

Ilham juga menyinggung dinamika geopolitik global yang kini membuat perdagangan internasional semakin menantang.

Ia menyebut wilayah Asia Tenggara sebagai kawasan yang sedang naik daun dan menilai kerja sama Indonesia dengan negara-negara tetangga kian penting.

Ia menyoroti kerja sama segitiga pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Thailand (IMT-GT) sebagai peluang strategis, terutama untuk memperkuat posisi regional dalam menghadapi tantangan global.

Usul KEK Halal di Aceh

Terkait potensi besar Aceh, Ilham merekomendasikan pendirian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal di Provinsi Aceh.

Ia menilai langkah ini sangat logis mengingat kebutuhan industri halal global terhadap pasokan bahan baku bersertifikat halal yang masih kurang.

Ironisnya, kata Ilham, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia belum menjadi pemain utama dalam industri halal ini.

“Kita harus malu, pasar halal dunia besar, tapi industri halal justru dikuasai negara-negara dengan penduduk muslim minoritas,” tegasnya.

Kolaborasi Akademisi–Industri

Putra sulung Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, ini juga mengapresiasi inovasi UMKM Aceh yang didominasi sektor kuliner, busana, dan kriya, selaras dengan potensi nasional.

Namun, ia menilai perlu adanya peningkatan kolaborasi antara pelaku usaha dan sektor akademisi.

Menurutnya, banyak penelitian di kampus yang tidak tersambung dengan industri, sehingga inovasi tidak berkembang optimal.

Ilham menyoroti rendahnya belanja riset Indonesia yang hanya sekitar 0,2 persen dari PDB, jauh tertinggal dari Korea Selatan (4,2 persen), Jerman (2,8 persen), dan Malaysia (1,4 persen).

Selain itu, penelitian di Indonesia sebagian besar masih dibiayai negara, bukan industri, menunjukkan lemahnya orientasi industri terhadap riset dan inovasi.

“Ke depan, ini yang harus diperkuat. ISMI Aceh harus membangun jembatan komunikasi dengan institusi akademik. Banyak profesor punya ide cemerlang, tapi tidak tahu bagaimana menjadikannya usaha,” jelasnya.

Ilham meyakini bahwa kolaborasi lokal antara pengusaha dan akademisi Aceh dapat melahirkan inovasi yang relevan dan berdampak nyata bagi kemajuan daerah.

“Dengan kolaborasi seperti itu, saya yakin, insyaallah Aceh bisa maju bersama dengan kekuatan inovasi lokal,” tutupnya. (Akhyar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *