Aceh Unggul di Sektor Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan ESDM sebagai Penggerak Ekspor Daerah
Banda Aceh – Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Zulfikar ST MSP, memaparkan perkembangan ekspor Aceh hingga tahun 2025 serta berbagai potensi unggulan daerah yang dinilai mampu mendorong peningkatan kinerja perdagangan luar negeri.
Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber dalam seminar nasional ekspor-impor berbasis komoditas lokal yang diselenggarakan oleh Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia bekerja sama dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh serta berkolaborasi dengan Diaspora Global Aceh (DGA) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Sabtu (22/11/2025).
Menurut Zulfikar, Aceh memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan energi sumber daya mineral (ESDM) yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.
“Sektor-sektor ini yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Aceh dan terus kita dorong pengembangannya,” ujar Zulfikar.
Zulfikar menjelaskan bahwa perkembangan ekspor Aceh sejak 2021 hingga 2025 menunjukkan tren berfluktuasi.
Puncak ekspor tertinggi terjadi pada 2022, dengan nilai mencapai sekitar USD 745,8 juta. Angka tersebut sedikit menurun pada 2023 dan naik kembali pada tahun berikutnya.
Dalam periode Januari-Mei 2025, batu bara menduduki posisi pertama sebagai komoditas ekspor utama, disusul kopi Arabika dan urea. Batu bara di kawasan Barat Aceh menjadi penyumbang terbesar, sementara kopi Arabika Gayo tetap menjadi komoditas premium yang diminati pasar dunia.
Dari sisi tujuan ekspor, India menjadi negara utama penampung batu bara Aceh, disusul Thailand, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, Filipina, Tiongkok, Malaysia, Kanada, dan Vietnam.
Zulfikar menjelaskan, Aceh memiliki sejumlah komoditas unggulan, di antaranya Kopi Arabika Gayo yang telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Kemudian kelapa dan kakao dengan lahan luas di daerah pesisir. Pinang yang banyak tersebar di Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie. Serta minyak atsiri, termasuk Nilam Aceh yang dikenal sebagai salah satu terbaik di dunia.
Produk perikanan, seperti cakalang, tongkol, tuna, dan udang, dengan sentra utama di Banda Aceh dan sejumlah daerah pesisir lainnya.
“Cold storage yang memadai juga telah tersedia, mendukung keberlanjutan ekspor sektor perikanan,” tambah Zulfikar.
Kontinuitas Jadi Tantangan Ekspor Aceh
Meski potensi besar, Aceh masih menghadapi berbagai hambatan dalam meningkatkan ekspor.
Tantangan tersebut meliputi kontinuitas produksi yang belum stabil, minimnya eksportir lokal sehingga banyak komoditas dibeli pihak luar Aceh dan diekspor kembali, keterbatasan modal, hingga infrastruktur yang belum memadai.
Kerja sama antar instansi dan peran asosiasi eksportir juga dinilai belum optimal. Selain itu, negara tujuan ekspor semakin memperketat standar mutu melalui sertifikasi seperti HACCP, GMP, dan ISO.
Zulfikar juga mengungkapkan rencana peluncuran program strategis Pemerintah Aceh berupa jalur Kapal Roro yang akan melayani rute Sinabang–Calang–Banda Aceh–Krueng Geukueh, kemudian menuju Penang, Malaysia.
“Harapannya tidak hanya sampai Penang, tetapi bisa diperluas hingga Port Klang dan negara lainnya,” katanya.
Untuk memperlancar perdagangan luar negeri, Disperindag Aceh terus meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait. (Akhyar)






