Di Muzakarah Saudagar Aceh, Putra Mantan Menteri Malaysia Serukan Persatuan Diaspora untuk Bangun Aceh
Banda Aceh – Ketua Diaspora Aceh Global (DAG) wilayah Malaysia–Singapura, Akhramsyah Muammar Ubaidah, menegaskan bahwa Aceh memiliki kekuatan besar yang selama ini tercecer karena tidak terhubung dalam satu jejaring yang kokoh.
Ia menilai kegiatan Muzakarah Saudagar Aceh yang digagas Majelis Pengurus Wilayah (MPW) Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Aceh sejak 21-23 November 2025 di Balai Meseuraya Aceh, Kota Banda Aceh, ini momentum penting untuk menyatukan kembali energi diaspora dan pelaku usaha Aceh di mana pun berada.
“Kita ini ramai. Punya potensi masing-masing. Jadi kenapa harus jalan sendiri-sendiri? Kalau kita bersatu pasti Aceh yang kita cintai ini maju,” kata Akhramsyah, Minggu malam (23/11/2025).
Akhramsyah bukan sosok biasa. Ia adalah putra mantan Menteri Malaysia, Tan Sri Sanusi Junid. Meski lahir dan besar di luar negeri, ia menegaskan Aceh tetap menjadi identitas dan panggilan yang tidak bisa ia lepaskan, sebab dalam tubuhnya mengalir darah Aceh.
Menurutnya, potensi Aceh selama ini tidak berkembang maksimal karena tidak disatukan dalam jaringan diaspora yang kuat. Ia mencontohkan diaspora Tionghoa yang saling menopang lintas provinsi, lintas negara, hingga lintas benua.
“Kemajuan China hari ini tidak lepas dari diaspora mereka yang kembali menyumbang kepada tanah asalnya. Kita bisa belajar dari itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, diaspora Aceh telah tersebar di berbagai negara dan banyak yang memiliki keahlian penting. Di Qatar, misalnya, profesional migas (minyak dan gas) banyak yang berdarah Aceh menempati posisi strategis.
Akhram berharap nantinya apabila sektor migas di Aceh bangkit lagi, para diaspora itu bisa diundang untuk memberi masukan maupun membina generasi muda Aceh.
Akhramsyah juga menilai sektor kuliner dan komoditas khas Aceh sebagai pintu tercepat menembus pasar global.
“Dari dulu barang-barang Aceh sudah sampai ke Timur Tengah dan Eropa. Jadi tidak ada yang mustahil kalau kuliner kita bisa masuk ke pasar dunia,” katanya.
Bagi Akhramsyah, identitas budaya Aceh juga memiliki nilai ekonomi dan bisa tampil dalam bentuk sederhana seperti motif pakaian. “Orang melihat motif Aceh pada pakaian saja sudah jadi pembuka percakapan. Itu bagian dari penguatan identitas sekaligus promosi Aceh,” jelasnya.
Sebagai keturunan Aceh yang tumbuh di Malaysia, Akhramsyah menegaskan rasa bangganya terhadap akar yang ia warisi. “Saya berdarah Aceh. Di mana pun saya berada, identitas itu tetap saya bawa. Sekarang waktunya diaspora bersatu untuk kemajuan Aceh,” pungkasnya.






